Apa itu Parenting?

Parenting realitanya memiliki makna yang luas sehingga tidak hanya sebatas program pengasuhan orang tua terhadap anaknya saja.

Mengenal Gangguan Psikotik Skizofrenia

Bagaimana sebetulnya deskripsi mengenai gangguan psikotik skizofrenia dimulai dari definisi hingga proses terapinya.

Makna Filosofis logo Mozaik Psikologi

Logo Mozaik Psikologi dengan berbagai makna filosofis di dalamnya yang menjadi daya tarik dengan keotentikannya.

Tips Sukses Menyapih dengan Metode WWL ( Weaning With Love)

Sebuah Metode menyapih anak dengan cinta yang efektif untuk tetap menjaga attachment ibu dan anak .

Efektifitas Menggunakan KB Alami untuk Pasutri

Salah satu jenis KB yang bisa menjadi alternatif untuk pasutri tetap menjaga keharmonisan dibarengi kenyamanan fisik dan psikis.

Tampilkan postingan dengan label Ilmu Psikologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ilmu Psikologi. Tampilkan semua postingan

Senin, 01 Juli 2019

Jenis-jenis stres : Eustress dan Distress


Stres ada 2 jenis, stres yang pertama adalah eustress dan yang kedua distress.
Eustress adalah stres yang positif dan bermanfaat, misalnya ketika seseorang mendapatkan tantangan baru yang membuatnya stres tapi pada dasarnya dia bisa melakukannya, hanya butuh waktu saja, sehingga pada akhirnya ia mendapatkan manfaat dari tantangan tersebut dan kualitas hidupnya lebih meningkat karena tantangan tersebut.
Distress adalah stres yang merusak dan berbahaya, misalnya ketika seseorang mendapatkan tantangan yang sama sekali diluar kemampuannya, ia benar-benar bukan ahlinya sama sekali, akhirnya stres yang dirasakannya dapat merusak kualitas hidupnya, menjadi tertekan, tidak semangat menjalani hari bahkan muncul perilaku-perilaku deskruptif lainnya.
Nah, kebanyakan orang menganggap bahwa stres itu hanya distress saja. Nyatanya ada eustress yang tentunya bermanfaat asalkan manajemen stres nya berjalan dengan optimal.
Salam Bahagia.
Selamat menjalani hari yang penuh tantangan..Fighting ðŸ˜‰

Rabu, 27 Maret 2019

Konformitas : Perilaku Ikut-Ikutan

Sumber Gambar : dictio.id
Apa sebetulnya yang dimaksud dengan konformitas? singkatnya konformitas bisa disebut sebagai perilaku ikut-ikutan. Jelasnya seperti yang disampaikan oleh Sears, Freedman & Peplau ( 1985) menyatakan bahwa konformitas adalah menampilkan suatu tindakan karena orang lain juga melakukannya.

Sesuai penjelasan di atas rasanya konformitas sangat cocok sekali jika dibahas melihat fenomana saat ini dimana banyak orang melakukan konformitas. Berperilaku hanya karena orang lainpun melakukannya dan terkadang tidak tau betul alasan dibaliknya.

Maka dari itu penulis coba memaparkan mengenai penyebab apa saja yang membuat seeorang menyesuaikan diri / melakukan konformitas. Chek it out !!!

Sears, Freedman & Peplau ( 1985) menyatakan bahwa ada dua alasan utama mengapa seseorang menyesuaikan diri, yaitu karena perilaku orang lain memberikan manfaat dan ingin diterima secara sosial serta menghindari celaan.

1. Kurangnya Informasi
Orang melakukan konformitas penyebab pertamanya karena kurangnya informasi sehingga ia merasa bahwa orang lain memiliki informasi yang tidak dimiliki olehnya dan akhirnya ia mengikuti perilaku orang lain tersebut. Oleh dari itu, tingkat konformitas yang didasarkan pada aspek informasi memiliki dua aspek diantaranya adalah sebagai berikut:
  • Kepercayaan terhadap kelompok, semakin besar kepercayaan individu terhadap kelompok sebagai informan yang benar maka semakin besar pula kemungkinan untuk menyesuaikan diri terhadap kelompok, ia akan mengikuti apapun yang dilakukan kelompoknya tanpa peduli dengan pendapat dirinya sendiri saking menganggap bahwa kelompoknya selalu benar. 
  • Kepercayaan yang lemah terhadap penilaian diri sendiri, salah satu faktor yang mempengaruhi tingkat konformitas adalah timgkat keyakinannya terhadap kemampuannya sendiri untuk berperilaku dan menampilkan suatu reaksi, ketika seseorang lebih percaya diri dengan pendapatnya sendiri maka konformitaspun menjadi menurun.
Sumber Gambar : wonderspsychology.com
2. Rasa Takut terhadap Celaan Sosial
Alasan kedua yang utama munculnya konformitas adalah karena adanya rasa takut terhadap celaan sosial yang pada akhirnya ia berusaha menyesuaikan diri dan berperilaku seperti orang lain. Terdapat beberapa faktor yang menentukan bagaimana pengaruh celaan sosial terhadap tingkat konformitas, diantaranya adalah sebagai berikut:
  • Rasa Takut terhadap penyimpangan, kebanyakan orang tidak ingin dipandang sebagai orang yang lain dari lain, kita ingin agar kelompok yang berada di sekitar kita menyukai dan menerima kita sehingga jika berselisih perasaan khawatir muncul. Orang yang tidak mau mengikuti apa yang berlaku dalam kelompok akan dianggap menyimpang dan mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan. Oleh karena hal tersebut maka tingkat konformitaspun menjad lebih tinggi. 
  • Kekompakan Kelompok, peningkatan konformitas bisa terjadi karena adanya kekompakan dalam kelompok, kekompakan yang tinggi akan menimbulkan konformitas yang tinggi pula, hal tersebut disebabkan karena bila seorang anggota kelompok dekat dengan anggota kelompoknya yang lain tentunya akan terasa menyenangkan jika diakui dan terasa menyakitkan jika dicela sehingga perilaku menyesuaikan diri pun akan semakin tinggi karena kecenderungan seseorang ialah ingin diakui. 
  • Kesepakatan Kelompok, orang yang dihadapkan pada keputusan kelompok yang sudah bulat maka akan mendapat tekanan yang kuat untuk menyesuaikan pendapatnya, namun bila kelompok tidak bersatu maka akan adanya penurunan tingkat konformitas, bahkan meskipun ada satu orang saja yang tidak sepakat maka tingkat konformitas akan menurun sekitar seperempat dari tingkat umumnya. 
  • Ukuran Kelompok, maksud ukuran kelompok disini misalnya adalah misalnya ada dua orang dalam satu ruangan dan satu orang menyebutkan ruangan tersebut dingin padahal satu orang lagi menganggap bahwa ruangan tersebut adalah hangat, maka orang kedua tidak akan percaya diri dengan pendapatnya, berbeda halnya jika dalam ruangan tersebut ada lima orang dan empat orang menyatakan bahwa ruangan tersebut hangat dan satu orang dingin, maka yang satu orang tersebut justru akan merasa bahwa ada yang salah dengan penilaiannya, itulah yang dimaksud ukuran kelompom disini. 
Demikian sedikit pemaparan terkait maksud dari konformitas dan penyebab yang melatarbelakanginya, ketika sudah mengetahui penyebabnya maka seyogyanya kita mampu menurunkan tingkat konformitas. 

Semoga artikel ini bermanfaat.

Salam Bahagia.
Mozaik Psikologi. 

DAFTAR PUSTAKA

Sears, Freadman, Peplau. ( 1985). Psikologi Sosial. Jilid 2 edisi kelima. Jakarta : Erlangga.

Jumat, 15 Februari 2019

Persona ( Topeng) manusia yang berkembang dari masa ke masa

Sumber Gambar : pixabay.com
Apa itu persona? mungkin pertanyaan itu hadir dalam benak kita., persona ya bukan pesona.

Persona itu secara singkat seringkali disebut topeng, topeng seperti apa maksudnya?
Menurut Alwisol ( 2009) persona itu adalah sebuah topeng/ wajah yang dipakai ketika menghadapi publik. Hal tersebut pada akhirnya mencerminkan persepsi masyarakat mengenai peran yang harus dimainkan dalam hidupnya. Singkatnya, persona itu adalah kepribadian publik, aspek-aspek pribadi yang ditunjukkan pada dunia atau pendapat publik mengenai individu sebagai lawan dari kepribadian privatnya.

Pengertian di atas tentunya menggambarkan pengertian sesungguhnya dari Carl Gustav Jung, seorang psikolog berkebangsaan Swiss yang menyatakan bahwa persona adalah sisi kepribadian seseorang yang ditunjukkan kepada dunia. Jung percaya bahwa setiap manusia  terlibat dalam peranan tertentu yang dituntut oleh dunia sosial. Misalnya seorang politikus diharapkan menampilkan muka penuh keyakinan untuk memenangkan suara masyarakat dan aktor dituntut untuk memamerkan gaya hidupnya sesuai dengan keinginan publik ( Jung, 1950/1959 dalam Feist & Feist, 2010 ). 

Namun, meskipun persona merupakan sisi penting dalam kepribadian, sebaiknya kita tidak mencampurkan bagian yang ditampilkan di depan publik dengan diri kita, benar adanya jika kita harus diterima di masyarakat namun jika kita terlalu menggunakan persona/topeng maka kita akan kehilangan sentuhan inner self dan cenderung hidup hanya untuk memenuhi harapan sosial. Agar sehat secara psikologis maka kita harus mempertahankan keseimbangan antara harapan sosial dengan bagaimana kepribadian kita yang sebenarnya caranya adalah dengan mengurangi tingkat kepentingan harapan sosial ( Jung, 1950/1959 dalam Feist & Feist, 2010 ). 

Persona dibutuhkan untuk survival/ bertahan hidup, membantu diri mengontrol perasaan, pikiran dan tingkah laku yang tujuannya untuk menciptakan kessan tertentu kepada orang lain namun seringkali menyembunyikan hakikat pribadi yang sebenarnya. Namun jika kita terlalu sering menggunakan persona maka akan membuat diri kita asing dengan diri sendiri dan perasaan sendiri yang akhirnya bisa menjadi manusia palsu, sekedar pantulan masyarakat yang tentunya bukan manusia yang otonom ( Alwisol, 2009).


Sumber Gambar : pixabay.com

Sesuai dengan teori menurut para ahli di atas dapat kita analisis dan observasi pada kehidupan kita sehari-hari bahwa ternyata persona itu muncul bukan hanya pada orang dewasa saja, namun bisa dimulai saat masa kanak-kanak.

Masa kanak-kanak merupakan masa yang rentan sekali, dimana anak mulai belajar mengenal emosi satu demi satu. Keadaan seperti apa yang mendorong usia anak di dominasi oleh personanya? keadaan dimana orangtua dianggap sosok yang menakutkan bagi anak. Ketika anak sudah insecure maka anak tidak memiliki keberanian untuk menunjukan inner self nya, atau dirinya yang sebenarnya. Anak seakan baik-baik saja didepan publik termasuk orang tua padahal semua itu dilakukan untuk menutupi rasa takutnya ketika berekspresi, anak menjadi takut salah ketika melakukan sesuatu yang pada akhirnya anak berperilaku sesuai tuntutan sosial saja dan yang paling utama tuntutan orangtua saja tanpa memikirkan dirinya yang menahan segala hal. Dari sinilah sudah tumbuh benih bahwa anak didominasi oleh personanya untuk survival yang akhirnya akan berefek pada masa selanjutnya yaitu remaja dan dewasa, seperti yang dijelaskan di atas jika diri didominasi oleh persona maka akhirnya ia hanya akan menjadi manusia palsu, sangat disayangkan sekali hal ini seringkali di skip oleh para orangtua.





Ketika dari masa kanak-kanak sudah seperti itu, jika tidak ditangani dengan tepat maka akan berlanjut ke masa remaja. Kondisinya seperti apa?
Kondisi dimana masa remaja adalah masa untuk menemukan jati diri, namun ternyata karena tuntutan sosial akhirnya di usia ini bukan menemukan jati diri tapi malah terbelenggu untuk memuaskan harapan sosial. Misal nih di lingkungan sekolah saja yang seringkali terjadi ketika pemilihan jurusan, seorang remaja yang sangat menyukai IPS ( Ilmu Pengetahuan Sosial) atau Bahasa namun karena tuntutan sosial, justru ia masuk ke jurusan IPA (Ilmu Pengetahuan Alam) yang jelas tidak disukainya, hal tersebut pada akhirnya memotong potensi remaja tersebut dan ia tidak bisa belajar dengan maksimal karena ia hanya menuruti harapan sosial, bukan keinginannya sendiri. Kenapa ia hanya menuruti harapan sosial ? ya karena sama seperti masa kanak-kanak, orangtua merupakan sosok yang menakutkan dan tak bisa dibantah, sehingga remaja tersebut hanya ingin diakui oleh orangtua dan lingkungan sosial lainnya.



Nah sekarang kita masuk ke masa dewasa, di masa ini nih puncaknya persona mendominasi diri seseorang jika seseorang tidak bisa menyeimbangkan antara harapan sosial dan bagaimana kepribadian yang sebenarnya. Misalnya seperti yang disebutkan di atas, seorang politikus yang hanya mementingkan bagaimana harapan sosial yang berlaku padanya sehingga akhirnya ia hidup hanya untuk publik tanpa mementingkan kepentingan kepribadiannya sendiri hanya untuk memenangkan suara masyarakat, jika terus-terusan persona yang digunakan maka suatu saat kepribadian aslinya akan muncul dan menjad tak terkontrol karena memang sekian lama tidak terbiasa menggunakan sisi kepribadian aslinya.

Contoh selanjutnya seorang aktor/aktris/publik figure lainnya yang dituntut untuk selalu tersenyum dan terlihat bahagia di depan khalayak meskipun misalnya kepribadian aslinya jauh dari hal tersebut. Itulah salah satu penyebab banyak sekali aktor/aktris yang tiba-tiba bunuh diri padahal sebelumnya terlihat baik-baik saja di depan publik.



Sumber Gambar : astridkhairina.blogspot.com
Pelajaran yang bisa diambil dari materi ini adalah bahwa kita harus mampu mempertahankan keseimbangan antara mana harapan sosial yang harus dilakukan dan mana kepribadian asli kita yang justru harus dimunculkan, persona pun memiliki fungsi untuk mengontrol perasaan, pikiran dan tingkah laku. Namun jika persona dipakai secara berlebihan tanpa menghadirkan sosok asli dalam diri kita maka akhirnya ya tidak akan sehat secara psikologis, dan hal tersebut tentunya bisa berakibat fatal untuk kelangsungan hidup.

Itu saja sedikit deskripsi terkait apa itu persona dan bagaimana persona berkembang dari masa ke masa, mudah-mudahan bermanfaat untuk kita semua..



Salam Bahagia..

Mozaik Psikologi..



DAFTAR PUSTAKA

Alwisol. ( 2009). Psikologi Kepribadian. Malang : UMM Press.
Feist, J. & Feist, G.J. ( 2010). Teori Kepribadian. Jakarta : Salemba Humanika.



Jika dirasa arikel ini bermanfaat, boleh di share pada timbol di bawah ini!!!


Kamis, 17 Januari 2019

Apa itu Stereotip dan bagaimana contoh konkritnya?

Apa itu Stereotip?
Untuk sebagian orang kata "stereotip" mungkin terdengar asing, namun nyatanya tanpa disadari stereotip ini banyak sekali dilakukan oleh kita dalam kehidupan sehari-hari. Lalu apa sih sebetulnya stereotip itu?

Stereotip adalah sebuah keyakinan positif ataupun negatif yang dipegang terhadap suatu kelompok sosial tertentu. Setelah munculnya stereotip maka akan munculah prejudice/ prasangka yang merupakan sikap negatif yang tidak dapat dibenarkan terhadap anggota kelompok terebut, prasangka dapat berupa perasaan tidak suka, marah, jijik, tidak nyaman dan bahkan kebencian. Setelah munculnya steretip dan prasangka akhirnya dapat muncul diskriminasi yang merupakan perilaku negatif yang tidak dibenarkan pula untuk anggota kelompok tersebut ( Stangor, 2011).


Stangor ( 2011)  melanjutkan bahwa stereotip itu berada dalam ranah kognitif sedangkan prasangka dalam ranah afektif dan diskriminasi berada dalam ranah perilaku yang munculnya.

Namun ternyata pengaruh lebih lanjut karena stereotip bukan hanya pada perilaku kita saja, tetapi juga perilaku korban stereotip ketika kita berinteraksi dengan mereka yang bisa menjadi dugaan pemuas diri sehingga lebih merusak. Misalnya anggota kelompok tersbut mulai melakukan sesuatu sesuai dengan stereotip itu dan menampilkan karakteristik yang sesuai dengan stereotip tersebut. Kalau stereotip itu hal positif tentunya akan jadi baik, tapi apa jadinya jika stereotip yang ditanamkan adalah hal negatif ( Sears; Freedman & Peplau, 1985).

Penulis merasa tertarik menuliskan hal ini karena stereotip seringkali terjadi di belahan dunia termasuk di indonesia, jadi pada tulisan ini kita hanya fokus pada sterotip saja ya sedangkan prasangka dan diskriminasi bisa dibahas di lain kesempatan. Penulis akan memberikan contoh-contoh stereotip yang seringkali ada di sekitar kita.

Stereotip itu ada yang positif dan ada yang negatif ya, misalnya etnis minang/padang nih stereotip positifnya adalah pekerja keras dan pedagang namun setereotip negatifnya adalah keras kepala dan egois. Nah oleh karena adanya stereotip tersbut akhirnya ketika kita bertemu dengan orang padang munculah prasangka-prasangka sehingga perilaku kita pun menyesuaikan dengan stereotip tersebut padahal belum tentu orang minang/padang yang kita temui adalah orang yang kerasa kepala, egois, pekerja keras dll. Inilah bahayanya jika kita berperilaku sesuai dengan stereotip yang berlaku.

Contoh lainnya pada etnis di indonesia aja dulu ya, misalnya pada etnis papua yang terkenal dengan keprimitifan dan agresifitas yang tinggi namu faktanya tidak semua orang papua demikian, papua tetap ada wilayah kota nya tidak semua pedalamannya. Meskipun sebagian besar iya, sangatlah berbahaya jika kita menganggap semua orang papua primitif dan agresif karena stereotip yang ada.



Sumber : kaskus.co.id
Kemudian etnis selanjutnya misalnya batak nih, orang batak terkenal dengan volume suara yang keras dan nada suara yang tinggi sehingga terdapat stereotip bahwa karakternya pun demikian, keras dan kasar. Padahal faktanya meskipun sebagian besar demikian belum tentu orang batak yang kita jumpai demikian karakternya, sehingga tidak tepat jika kita ikut berperilaku sesuai dengan stereotip yang ada. 


Nah sekarang kebalikan dengan etnis batak yaitu etnis sunda, dari suaranya orang sunda terkenal dengan suara yang lembut dan mengalun sehingga terdapat stereotip positif bahwa karakternya nya lemah lembut dan sopan serta terdapat stereotip negatif nya kurang power atau kurang semangat ketika beraktifitas. Nah stereotip positif dan negatif terhadap orang sunda tersebut tidak bisa dijadikan patokan untuk kita berperilaku, karena sejatinya meskipun sebagian besar demikian tidak berarti jadi semuanya seakan demikian ya. 


Sekarang kita masuk ke contoh diluar indonesia ya, misalnya etnis china/tionghoa nih yang terkenal di indonesia. Etnis china ini stereotip negatifnya adalah orang yang kasar, pelit, keras dan tidak berperasaan. Sedangkan stereotip positifnya adalah pekerja keras dan hemat. Nah meskipun ada stereotip tersebut faktanya belum tentu semua etnis china itu kasar, pelit, keras, tidak berperasaan, pekerja keras, hemat dll. Karena adanya stereotip tersebut tidak tepat jika kita berprasangka dan berperilaku sesuai dengan stereotip tersebut. 

Selanjutnya orang arab nih, orang arab saat ini memiliki stereotip positif religius/rajin beribadah, berhijab, kaya raya dengan minyaknya dan stereotip negatifnya adalah adanya penindasan terhadap kaum perempuan, teroris, kekerasan dan orang arab tinggal di gurun. Padahal faktanya belum tentu semuanya tepat misalnya tidak semua orang arab rajin beribadah bahkan ada yang non muslim, tidak semua orang arab berhijab, tidak semua orang arab kaya karena minyaknya, tidak semua orang arab melakukan penindasan dan kekerasan khusunya terhadap perempuan, tidak benar orang arab itu teroris karena mayoritas penduduknya islam karena islam bukan berarti teroris dan tidak semua orang arab tinggal di gurun. Nah karena stereotip yang berkembang, kita akhirnya berperilaku sesuai dengan stereotip yang berlaku yang jelas menimbulkan kesalahpahaman yang fatal. 

Negara selanjutnya misalnya polandia, menurut Sears, Freadman, Peplau (1985) di polandia terdapat stereotip negatif bahwa orangnya canggung/ tidak supel saat berinteraksi. Oleh karena adanta stereotip tersbut akhirnya orang pun beranggapan demikian sehingga enggan untuk berinteraksi bahkan orang polandianya sendiri karena ada stereotip tersebut membuat mereka benar-benar berperilaku sesuai dengan setereotipnya, hal inilah yang dianggap berbahaya.

Contoh lainnya adalah negara India, yang mengejutkan di India ini sangat banyak sekali stereotip negatif nya dibandingkan positifnya. Stereotip positif di India adalah bahwa orang india berkulit putih dan memiliki kecantikan dan ketampanan yang luar biasa. Sedangkan stereotip negatifnya adalah india adalah negara miskin, india adalah negara pemikat ular, india adalah negara yang kotor, india adalah negara yang kurang berpendidikan, orang india menari dan bernyanyi pada setiap aktifitas hidupnya dan semua pernikahan diatur oleh orang tua. 

Faktanya tidak semuanya demikian, tidak semua orang india berkulit putih , tampan dan cantik seperti artis dan aktor bollywood, india adalah negara berkembang bukan negara miskin, di india ular yang menawan itu ilegal sudah berlaku beberapa tahun, tidak semua kota di india itu kotor, tidak semua orang india tidak berpendidikan jtru sekarang banyak pakar IT berasal dari India, tidak benar jika aktifitas orang india menyanyi dan menari seperti dalam film bollywood dan karena tingkat pendidikan yang lebih tinggi sekarang ini tidak benar semua pernikahan di india diatur oleh orang tua. Karena stereotip yang ada kita jadi berperilaku dan berpandangan yang kurang tepat. 

Sumber : kaltim. tribunnews.com
Setelah stereotip tentang berbagai etnis dan negara saatnya contoh yang krusial namun seringkali dilupakan yaitu setereotip tentang gender dan perannya. Jenis kelamin itu ada dua yaitu laki-laki dan perempuan yang dilhat secara biologis. Sedangkan gender lebih ke peran laki laki ataupun perempuan dalam kehidupannya. Lalu bagaimana stereotip yang ada untuk gender ini?

Misalnya dalam aspek fisik, stereotipnya adalah  laki laki lebih kuat dibandingkan dengan perempuan dan perempuan lebih lemah dibandingkan laki laki, padahal faktanya meskipun sebagian besar seperti itu berarti tidak semuanya seperti itu dong, semuanya tergantung latar belakang masing masing, ada lelaki yang lebih lemah dari segi fisik dibandngkan perempuan, begitupun sebaliknya.

Selanjutnya aspek emosional, lelaki memiliki stereotip yang kasar, tidak berperasan, tidak peka dan menakutkan. Perempuan memiliki stereotip yang tenang, lembut, emosional dan terlau baper ( bawa perasaan). Padahal meskipun kebanyakan seperti itu belum tentu semuanya seperti, ada lelaki yang begitu lembut dan peka dan ada perempuan yang kasar dan tak berperasaan. Jad tidak tepat jika kita berperilaku sesuai stereotip tersebut.

Aspek selanjutnya adalah sosial, laki laki kurang berkomunikasi dan cenderung kurang supel dan perempuan lebih supel karena kecerewetannya. Ini tidak tepat ya tidak semuanya demikian adanya, tergantung latar belakang dan tidak bisa disamaratakan begitu saja. 

Itu saja mungkin penjelasan terkait dengan stereotip, mudah mudahan bisa dijadikan alat untuk lebih berhati hati ketka berperilaku sehingga tidak menimbulkan prasangka dan diskriminasi karena sterotip yang ada. 

Salam Bahagia..
Mozaik Psikologi..

Jika dirasa artikel ini bermanfaat, boleh di share yaa..


DAFTAR PUSTAKA



Sears, Freadman, Peplau. ( 1985). Psikologi Sosial. Jilid 2 edisi kelima. Jakarta : Erlangga.

Stangor, C. ( 2011). Social Psychology Principles. Volume 1. Flat World Knowledge.



Senin, 31 Desember 2018

Flow : Kondisi dimana dunia terasa milik sendiri

Sumber Gambar : pexels.com
Pernahkah diri ini merasa dalam keadaan senyaman-nyamannya, senikmat-nikmatnya tanpa memperdulikan hal lainnya, apapun itu. Kondisi seperti itulah dalam Psikologi Positif disebut dengan kondisi Flow. Flow adalah sebuah kondisi dimana seseorang merasa sangat terbawa kedalam aktifitas yang dilakukannya dan energinya terfokus pada suatu hal tersebut saking merasa nyaman dan menikmati aktifitas tersebut. 

Kondisi Flow ini seringkali dirasakan oleh seorang seniman, pelukis, penulis, pemain catur, programmer atau profesi lainnya yang membutuhkan fokus yang tinggi. Namun nyatanya flow ini bisa diraih dalam semua aktifitas kehidupan kita, bukan hanya pada contoh profesi di atas yang notabene berada dalam ruang lingkup pekerjaan saja. 

Csikszentmihalyi (1990) adalah salah seorang pemuka teori flow yang menggambarkan bagaimana kondisi flow mampu meningkatkan kualitas hidup seseorang dalam setiap setting kehidupan yang tentunya tidak lepas dari kenyamanan, ketenangan, kesenangan ataupun kenikmatan ketika melakukan sesuatu sekalipun kita dalam konsentrasi penuh ataupun fokus ketika mengerjakan sesuatu. 


Namun ternyata oh ternyata, meskipun konsisi flow ini sangatlah diidamkan oleh kita untuk meningkatkan kualitas hidup, nyatanya dalam konsep flow ini tidak semua orang dapat mencapainya. Orang dengan keperibadian autotelic dianggap lebih mampu mencapai kondisi puncak ini, lalu apa itu keperibadian autotelic?


Csikszentmihalyi (1990) menyatakan bahwa keperibadian autotelic adalah keperibadian yang karakteristiknya lebih mudah mentafsirkan potensi sebuah ancaman menjadi lebih menyenangkan sehingga kesehatan psikisnya lebih terjaga dibandingkan orang pada umumnya, kemudian kepribadian ini tidak pernah merasa bosan, jarang sekali cemas dengan peermasalahan yang ada bahkan terus melibatkan diri didalamnya.



Jika dilihat secara harfiah saja, autotelic itu adalah " diri yang memiliki tujuan yang mandiri" sehingga mencerminkan ide individu itu sendiri sehingga sedikit sekali campur tangan orang lain. Untuk kebanyakan orang, tujuan hidup bisa terbentuk oleh kebutuhan biologis dan konvensi sosial yang tentunya berasal dari eksternal, namun untuk tipe autotelic ini tujuan muncul dari pengalaman yang dievaluasi oleh kesadaran diri sendiri.

Singkatnya, tips untuk mendapatkan kondisi flow menurut Csikszentmihalyi (1990) ada 4 poin yang tentunya merupakan karakteristik dari kepribadian autotelic pula, diantaranya adalah :

1. Menetapkan tujuan yang jelas/spesifik, ketika seseorang menetapkan tujuan yang jelas maka kondisi flow dapat dengan mudah tercapai karena alasan melakuakan aktivitas tersebut sudah jelas bahkan terjadwal dengan rapi. 

2. Terlibat dalam aktifitas, setelah kita memilih suatu tujuan tertentu maka kita harus sangat terlibat dalam aktifitas yang dilakukan.

3. Konsentrasi penuh dengan memperhatikan apa yang terjadi, misalnya seorang atlet yang menyadari bahwa dalam setiap perlombaan, kesalahan sesaat saja dapat menjadikan kekalahan itu benar-benar nyata. 

4. Belajar menikmati setiap pengalaman yang terjadi, ketika kita sudah menetapkan tujuan, mengembangkan skill dan konsentrasi penuh terhadap setiap aktifitas maka saat itu pula kita menikmati setiap momen yang terjadi menjadi sebuah kesenangan, sehingga kita tetap mampu merasakan adanya angin sepoi-sepoi bahkan ketika panas dan aktifitas lainnya yang terasa berat oleh orang pada umumnya namun dinikmati sebagai sebuah pengalaman untuk meningkatkan kualitas hidup lebih baik. 

Konsep flow ini meskipun bisa diterapkan dalam semua setting kehidupan, namun nyatanya tetap saja yang seringkali menjadi fokusnya adalah pencapaian kondisi flow ketika sedang bekerja,mengapa? karena memang kebanyakan orang tidak menikmati kehidupannya ketika sedang melakukan pekerjaan sehingga kondisi flow pun sulit dicapai. 

Penulis teringat dengan tulisan Ayah Edy dalam buku berjudul " Memetakan Potensi Unggul Anak" yang isinya kurang lebih seperti ini  " salah satu ciri orang yang tidak bahagia ketika bekerja adalah orang yang sangat membenci hari senin dan terus menantikan hari sabtu dan minggu, benci hari senin karena hari mulai bekerja lagi sehingga bekerja hanya asal mendapatkan gaji tanpa menikmati pekerjaan yang ia kerjakan" 


Oleh sebab itu, kondisi flow tentunya sangatlah didambakan oleh orang yang setiap harinya disibukkan dengan pekerjaan sehingga tetap menikmati pekerjaannya dan lebih bersemangat ketika bekerja dan kepercayaan dirinya lebih tinggi untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.


Sumber Gambar : pexels.com
Dalam setiap hal yang diidamkan tentunya akan memiliki hambatan tersendiri, apa saja hambatan yang biasa terjadi untuk mendapatkan kondisi flow ini seperti yang dipaparkan oleh Csikszentmihalyi (1990) ?

1. Anhedonia/ kurangnya kesenangan, seperti salah satu simtom skizofrenia yang sangat kurang sekali kesenangan dalam hidupnya, sama halnya dengan pencapaian kondisi flow ini yang tentunya anhedonia dapat menjadi penghambat yang krusial. 


2. Tidak dapat berkonsentrasi, ketika seseorang kurang mampu memusatkan energi psikisnya maka esensi dari apa yang dikerjakannya pun tidk akan tercapai sehingga kondisi flow pun sangat sulit digapai. 


3. Kesadaran diri yang berlebihan, seseorang yang terus-menerus khawatir tentang bagaimana orang lain akan melihatnya,yang takut menciptakan kesan yang salah atau melakukan sesuatu yang tidak pantas maka akan sulit mencapai kondisi flow.


4. Kondisi sosial yang sulit diatasi, kondisi sosial seperti adanya perbudakan, penindasan, eksploitasi, dan penghancuran nilai-nilai budaya akan sangat menghambat kondisi flow.


5. Adanya patologi sosial ( Anomie dan Alienasi), anomie adalah kurangnya aturan yang ada di masyarakat sedangkan alienasi adalah kondisi di mana orang dibatasi oleh sistem sosial untuk bertindak dengan cara yang bertentangan dengan tujuan diri sendiri.


6. Hambatan flow sejauh ini dominan disebabkan oleh faktor yang ada dalam diri sendiri dibandingkan dengan faktor sosial.


Kondisi flow dapat dicapai dengan adanya motivasi/dorongan dari diri sendiri untuk mencapai tujuan, namun kenikmatan tetap dirasakan seberat apapun aktifitas yang dilakukannya.



Itu saja gambaran singkat tentang konsep flow, mudah-mudahan dapat bermanfaat dan ditunggu masukannya !!


Salam Bahagia..
Mozaik Psikologi..

DAFTAR PUSTAKA

Ayah Edy. ( 2015). Rahasia Memetakan Potensi Unggul Anak. Jakarta : Noura Books.

Csikszentmihalyi, M. ( 1990). Flow : The Psychology of Optimal Experience . Chicago : HarperCollins e-books.


Jumat, 14 Desember 2018

Makna Filosofis Logo Mozaik Psikologi

Logo Mozaik Psikologi


Sebelum dijelaskan makna filosofis dari logo mozaik psikologi ini, alangkah lebih baik jika diketahui terlebih dahulu maksud/arti dari kata "logo" terlebih dahulu yang tentunya dapat menambah wawasan menjadi lebih luas ya.

Seperti dilansir dalam situs wikipedia.org yang menyatakan bahwa logo adalah suatu gambar atau sketsa dengan arti tertentu yang mewakili suatu arti dari perusahaan, daerah, organisasi, produk, negara, lembaga dan hal lainnya yang membutuhkan suatu yang singkat dan mudah diingat sebagai pengganti dari nama sebenarnya yang tentunya harus memiliki makna filosofi dan kerangka dasar berupa konsep dengan tujuan memiliki sifat yang mandiri atau berdiri sendiri yang menjad ciri khas dan biasanya berupa warna dan bentuk tertentu. 

Nah itu dia maksud dari kata " logo" itu sendiri, sekarang dapat dipahami yaa mengapa sebuah weblog seperti ini lebih baik mempunyai logo tersendiri, tujuannya ya sebagai pengganti nama yang sebenarnya yang tentunya memiliki ciri khas tertentu sehingga mudah diingat.

Karena logo itu harus mewakili suatu arti tertentu, ya tentunya harus memiliki makna filosofis juga dong yang tentunya menjelaskan maksud dari bentuk logo tersebut.

Nah sekarang masuk ke intinya, bagaimana sih makna filosofis dari logo mozaik psikologi ini?

Tujuan penulis membuat weblog sangat simpel sekali, hanya ingin berbagi ilmu dan bertukar pikiran dengan khalayak berkaitan dengan hal-hal yang berbau psikologi atau ilmu psikologi. Penulis masih merasa banyak sekali kekurangan sehingga sangat menantikan saran dan kritik yang membangun dari semuanya.

Kembali ke makna filosofis dari logo mozaik psikologi ini, jika dilihat dari warna terlebih dahulu, logo ini yang menonjolnya adalah warna ungu. Kenapa ungu? yang berkecimpung dibidang psikologi tentunya pasti sangat memahami hal ini.

Warna ungu jika dilihat dari gradasi warna antara warna merah  dan biru, jika mendekati warna biru maka warnanya jadi violet sedangkan jika mendekati warna merah maka jadi warna ungu. Oleh karena gradasi warna tersebut maka warna ungu jika dilihat dalam psikologi warna menunjukan kebijaksanaan, spiritualitas, kemegahan, ketenangan dll. 

Namun kita tidak bisa hanya melihat dari gradasi warnanya saja, harus dilihat pula dari sisi sejarah latar belakang bidang psikologi identik dengan warna ungu. Seperti yang diketahui bahwa lambang Psikologi bentuknya seperti trisula yang diambil dari salah satu alfabet ke-23 bahasa Yunani yang dibaca psyche atau psi yang artinya adalah jiwa atau ruh. Lambang psi tersebut memang aslinya berwarna ungu, itulah awal mula alasannya. Lalu kenapa warna ungu? ya karena pada saat itu menurut orang yang bisa melihat hal yang ghaib atau istilah spesifiknya "aura", jiwa/psikis itu memancarkan aura berwarna ungu. Seiring berkembangnya ilmu pengetahuan maka ilmu psikologi identik dengan warna ungu karena aura yang dipancarkan oleh orang yang bermasalah/memiliki gangguan adalah warna ungu yang tentunya erat hubungannya dengan bidang psikologi yang memfokuskan pada penanganan psikologis pada gangguan-gangguan semacam itu.


Selanjutnya masih seputar warna, jika dilihat pada logo mozaik psikologi di atas, warna yang ditampilkan cenderung halus/lembut, artinya tidak mencolok yang terlihat dari paduan garis-garis nya dimana kesan lembut nya terasa. Kelembutan itulah yang akan menjadi ciri khas dari tulisan-tulisan penulis. Karena memang salah satu karakter warna ungu pun adalah kelembutan/kehalusan.


Selanjutnya masuk ke bentuk mozaik/puzzle-puzzle yang berada di samping kiri makna nya sesuai dengan namanya yaitu mozaik psikologi, kenapa mozaik? karena pada realitanyanya sejarah Ilmu Psikologi itu seperti kepingan-kepingan yang awalnya berserakan dimana-mana dengan berbagai latar belakang, berbagai istilah, berbagai masalah yang pada intinya semua itu adalah tentang Ilmu Psikologi. Lalu, kepingan-kepingan tersebut akankah menyatu menjadi satu kesatuan yang tidak bisa diganggu gugat? saya rasa tidak karena memang ilmu psikologi itu sangatlah luas dan beragam serta dinamis disesuaikan dengan segala situasi dan kondisi sehingga tidak bisa menjadi stuck. Itulah keindahan Ilmu Psikologi yang karena banyaknya kepingan-kepingan tersebut menjadikan Ilmu Psikologi lebih berkembang dan menyenangkan untuk dipelajari. 


Alasan di atas yang menjadikan bentuk kepingan-kepingan dalam logo mozaik psikologi tidak menyatu seperti bentuk wajik yang sudah stuck sampai disana. Munculnya kesan dinamis namun tetap realistis bahwa kepingan-kepingan dalam ilmu psikologi sangat sulit sekali di kotak-kotak an sesuai keinginan sehingga ilmu psikologi jangkauannya akan tetap luas yang memotivasi kita terus terus menggali dan menggali ketepatannya. 


Selain itu, logo mozaik psikologi pula disematkan lambang psikologinya yang menjadi ciri yang otentik untuk Ilmu Psikologi itu sendiri, maka sangat disayangkan sekali jika lambang psikologi terlewatkan.


Itu saja mungkin penjelasan terkait makna filosofis dari logo mozaik psikologi ini, mudah-mudahan sesuai dengan nama dan logonya, weblog ini bisa bermanfaat dan menjadi ajang bertukar pikiran yang tentunya memperkaya Ilmu Psikologi dan bermanfaat untuk kehidupan sehari-hari.


Salam Bahagia..

Mozaik Psikologi..








Mengenal Gangguan Psikotik Skizofrenia

Sumber  Gambar: nationalgeoghrapic.grid.id

Sebelum mengenal lebih jauh tentang skizofrenia hanya merasa ada insight untuk menuliskannya, itu saja. Maka dari itu, mari kita coba bedah hal-hal yang berkaitan dengan skizofrenia, dimulai dari maksud skizofrenia itu sendiri sampai pada bagaimana terapi yang harus dilakukan pada penderita skizofrenia menurut para ahlinya, chek it out

Apa itu  Skizofrenia?


Menurut Chaplin (2011) skizofrenia adalah sebuah nama umum untuk sekelompok reaksi psikotis yang dicirikan dengan pengunduran atau pengurungan diri, gangguan emosional dan afektif, serta adanya halusinasi, delusi, tingkah laku negativistis dan adanya kemunduran berikut kerusakan yang progresif.

Sedangkan dalam buku psikologi abnormal yang disusun oleh Davison, Neale & Kring (2012) menyatakan bahwa skizofrenia adalah salah satu gangguan psikotik yang ditandai dengan gangguan utama pada pikiran, emosi dan perilaku yang terganggu, sehingga membuat berbagai pemikiran menjadi tidak saling berhubungan secara logis, adanya persepsi dan perhatian yang keliru, afeksi yang datar dan berbagai gangguan motorik yang bizzare. Penderita skizofrenia ini menarik diri dari orang lain dan kenyataan serta seringkali berfantasi yang penuh dengan delusi dan halusinasi.

Sesuai dengan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa skizofrenia itu adalah gangguan psikotik pada individu yang ditandai dengan adanya gangguan pada pikiran, emosi dan perilaku. Gangguan pada pikiran berupa delusi, halusinasi yang tentunya membuat pikiran tidak berhubungan secara masuk akal. Gangguan pada emosi berupa afeksi yang datar dan menarik diri dari orang lain. Gangguan perilaku berupa aktifitas motorik yang tidak karuan/tidak jelas dan dalam kondisi parah bisa merusak diri sendiri dan orang lain.

Bagaimana Sejarah Konsep Skizofrenia?


Selanjutnya, sebelum mengetahui tentang bagaimana simptom dari skizofrenia alangkah lebih baik jika kita mengetahui terlebih dahulu tentang bagaimana sejarah asal mula nya bisa muncul konsep skizofrenia ini. Sejarah konsep skizofrenia ini dan semua materi yang akan dipapaparkan semuanya merujuk pada buku psikologi abnormal yang disusun oleh Davison, Neale & Kring (2012) yang dirangkum sehingga lebih mudah dipahami. Untuk sejarah konsep skizofrenia dalam buku tersebut dinyatakan bahwa pelopor munculnya istilah skizofrenia  dimulai oleh seorang psikiater berkebangsaan Jerman bernama Emil Kraepelin dan psikiater berkebangsaan Swiss bernama Eugen Bleuler. 


Emil Kraepelin mengemukakan gambaran mengenai dementia praecox yang menjad istilah awal skizofrenia pada tahun 1898 yang telah terbukti dapat bertahan dalam penelitian kontemporer. Lalu, bagaimana konsep dementia praecox ? dementia praecox  ini mencakup beberapa konsep diagnostik  yaitu dimensia paranoid, katatonia dan hebefrenia yang dianggap sebagai entitas tersendiri oleh para ahli klinis pada beberapa dekade terdahulu.

Secara istilah, praecox berarti terjadi pada usia awal dan demensia berarti perjalanan yang memburuk yang ditandai oleh deteriorisasi intelektual yang progresif. Namun, demensia dalam demensia praecox tidak sma dengan demensia yang ditandai dengan kerusakan memori yang parah, yang dimaksud demensia disini adalah  kelemahan mental pada umumnya.

Namun berbeda halnya dengan Eugen Bleuler yang memiliki pendapat berbeda dengan yang disampaikan oleh Emil Kraepelin, ia berpendapat bahwa gangguan tersebut tidak selalu terjadi pada usia dini dan ia pun yakin bahwa gangguan ini tidak akan berlanjut menjadi demensia, pendapat tersebut tentunya mematahkan pendapat yang disampaikan oleh kraepelin sehingga sebutan dementia praecox tidak dapat digunakan kembali.

Kemudian pada tahun 1908, Bleuler memberikan istilahnya sendiri terkait gangguan ini, yaitu skizofrenia yang berasal dari bahasa Yunani schizein dan phren. Schizein artinya membelah dan phren artinya akal pikiran. Sehingga dari kedua kata tersebut dapat mencakup karakteristik utama dari gangguan tersebut, yang tentunya istilah skizofrenia ini digunakan hingga saat ini. Itulah sumbangsih Bleuler mengenai skizofrenia dan tentunya yang menciptakan istilah ini. 


Selanjutnya sejarah munculnya konsep ini tidak hanya sampai disitu saja, namun diperluas di wilayah Amerika Serikat. Bleuler selama parauh abad ke-20 memberikan pengaruh besar terhadap konsep skizofrenia di Amerika Serikat yang akhirnya diagnosis tersebut semakin meluas. Contohnya di New York State Psychiatric Institute yang sekitar 20 persen pasiennya di diagnosis sebagai skizofrenia pada tahun 1930 an, dimana pada tahun 1940 angka tersebut meningkat dan pada tahun 1952 memuncak mencapai angka 80 persen. Namun berbeda dengan yang terjadi di Eropa yang angkanya tetap/konstan lebih sempit dibandingkan di Amerika Serikat contohnya di London di Rumah Sakit Maudsley yang mencapai 20 persen selama kurun waktu 40 tahun ( Kuriansky, Deming & Gurland, 1974).


Bagaimana Simptom Klinis Skizofrenia?

Simtom-simtom/gejala-gejala gangguan skizofrenia ini tidak seperti gangguan lainnya yang homogen, gangguan ini lebih heterogen yang artinya para pasien skizofrenia dapat berbeda antara satu dan yang lainnya dibandingkan gangguan lain yang cenderung homogen, sehingga tidak ada simtom penting yang harus ada untuk menentukan diagnosis skizofrenia, namun tetap saja secara umum terdapat tiga kategori simtom utama untuk gangguan skizofrenia yaitu simtom positif, simtom negatif dan simtom disorganisasi, dan ada simtom lainnya yang tidak termasuk ke dalam ketiga kategori di atas.

1. Simtom Positif 

Simtom positif ini mencakup hal-hal yang berlebihan dan distorsi seperti delusi ( waham) dan halusinasi yang menjadi ciri episode akut skizofrenia. Lalu, apa yang dimaksud dengan delusi dan halusinasi tersebut?
  • Delusi ( Waham) adalah suatu keyakinan yang berlawanan dengan kenyataan yang merupakan simptom positif yang umumnya terjadi pada pasien skizofrenia, selain dari itu waham juga mempunyai bentuk lain yang beberapa diantaranya dipaparkan oleh Kurt Schneider ( 1959) yang merupakan psikiater berkebangsaan Jerman yang dikutip oleh Mellor ( 1970). Gambaran tersebut diantaranya adalah : Pasien yakin bahwa pikiran yang bukan berasal dari dalam dirinya dimasukan ke dalam pikirannya oleh sumber eksternal, pasien yakin bahwa pikirannya disiarkan dan ditransmisikan sehingga orang lain tahu apa yang mereka pikirkan, pasien berpikir bahwa pikirannya telah dicuri secara tiba-tiba oleh suatu kekutan eksternal, beberapa pasien yakin bahwa perasaan atau perilaku mereka dikendalikan oleh kekuatan eksternal
  • Halusinasi adalah suatu pengalaman indrawi tanpa adanya stimulasi dari lingkungan dan yang paling sering terjadi adalah halusinasi auditori, bukan visual sehingga 74 persen dari suatu sampel mengalami halusinasi auditori ( Sartorius dkk, 1974). Halusinasi dianggap pernting karena sering terjadi pada pasien skizofrenia dibandingkan pada gangguan psikotik lainnya. Tipe-tipe halusinasi yang dikutip dari Mellor ( 1970) diantaranya adalah : Beberapa pasien menyatakan bahwa mereka mendengarkan pikiran meereka diucapkan oleh suara lain, beberapa pasien mengklaim bahwa mereka mendengar suara-suara yang saling berdebat, beberapa pasien mendengar suara-suara yang mengomentari perilaku mereka

2. Simtom Negatif

Simtom-simtom negatif ini mencakup berbagai defisit behavioral seperti avolition, alogia, anhedonia, afek datar dan asosialitas, dimana simtom ini cenderaung bertahan melampaui episode akut dan memiliki efek yang parah terhadap kehidupan pasien. Selanjutnya di bawah ini akan dijelaskan maksud dari istilah simtom-simom di atas. 
  • Avolition atau apati adalah kondisi kurangnya energi dan ketiadaan minat atau ketidakmampuan untuk tekun melakukan aktifitas rutin. Pasien tidak tertarik untuk sekedar berdandan dan membersihkan diri, rambut tidak disisir, kuku kotor, gigi tidak disikat dan pakaian yang berantakan. Pasien mengalami kesulitan melakukan aktivitas sehar-hari dalam pekerjaan, sekolah dan bahkan rumah tangga sehingga mereka dapat menghabiskan waktu dengan duduk-duduk saja tanpa melakukan apapun.
  • Alogia merupakan gangguan pikiran negatif yang dapat terwujud dalam beberapa bentuk, salah satu contohnya dalam hal percakapan, percakapan mereka cenderung rendah sehingga jumlah total percakapan sangat jauh berkurang. Meskipun jumlah percakapan memadai namun percakapan tersebut tidak mengandung informasi yang mumpuni dan cenderung membingungkan serta diulang-ulang. 
  • Anhedonia merupakan ketidakmampuan merasakan kesenangan yang tercermin dari kurangnya minat dalam berbagai aktifitas rekreasi, gagal mengembangan hubungan dekat dengan orang lain serta kurangnya minat dalam hubungan seks. Pasien ini menganggap apa yang biasanya dianggap aktivitas menyenangkan oleh orang lain, menurut mereka tidaklah demikian.
  • Afek Datar maksudnya adalah hampir tidak ada stimulus untuk pasien memunculkan respon emosional, pasien menatap dengan pandangan yang kosong, otot-otot wajah kendur dan mata meraka tidak hidup. Ketika diajak bicara, pasien menjawab dengan datar dan tanpa nada. Afek datar ini terjadi pada 66 persen dari suatu sampel besar pasien skizofrenia ( Sartorius dkk, 1974). Namun perlu dipahami bahwa afek datar ini merujuk pada ekspresi emosi yang tampak bukan pada pengalaman dalam diri pasien, yang bisa saja tidak mengalami masalah.
  • Asosialitas dapat diartikan sebagai ketidakmampuan parah dalam menjalin hubungan soaial dimana mereka hanya memiliki sedikit teman, keterampilan sosial rendah dan sangat kurang berminat untuk berkumpul dengan orang lain.
Sumber Gambar : pexels.com

3. Simtom Disorganisasi

Simtom-simtom disorganisasi mencakup disorganisasi pembicaraan dan perilaku yang aneh ( Bizzare), selanjutnya dibawah ini akan dijelaskan bagaimana gejala tersebut.
  • Disorganisasi Pembicaraan  yang juga dikenal dengan gangguan berpikir formal yang merujuk pada masalah dalam mengorganisasikan berbagai pemikiran dan dalam berbicara sehingga pendengar dapat memahaminya. Pasien kadang terjadi inkoherensi dalam percakapannya sehingga meskipun pasien berulang kali merujuk pada pemikiran atau tema sentral, namun tetap saja berbagai citra dan potongan pikiran tidak saling berhubungan satu sama lain sehingga sulit untuk memahami dengan pasti apa yang ingin disampai oleh pasien. Pasien juga sering terganggu dengan melakukan asosiasi longgar atau keluar jalur sehingga tetap mengalami kesulitan untuk tetap berada dalam satu topik, hal tersebut disebabkan karena terbawa oleh aliran asosiasi yang muncul dalam pikiran yang berasal dari pemikiran sebelumnya. 
  • Perilaku Aneh ( Bizzare) terwujud dalam beberapa bentuk, misalnya adalah pasien dapat meledak dalam kemarahan yang tidak dapat dimengerti, memakai pakaian yang tidak biasa, bertingkah laku seperti anak-anak, menyimpan makanan, mengumpulkan sampah dan melakukan perilaku seksual yang tidak pantas seperti masturbasi di tempat umum. Pasien kesulitan untuk mengatur perilaku mereka dan menyesuaikannya dengan standar masyarakat serta kesulitan mngerjakan tugas untuk kehidupan sehari-hari.
4. Simtom Lain

Terdapat simtom lain yang tidak tepat jika dimasukan ke dalam tiga kategori di atas, yaitu simtom katatonia dan afek yang tidak sesuai. Bagaimana penjelasannya? 
  • Katatonia memiliki ciri utama berupa abnormalitas motorik, misalnya pasien melakukan gerakan berulang kali, melakukan urutan aneh atau kadang kompleks antara gerakan jari, tangan dan lengannya yang seringkali terlihat memiliki tujuan tertentu. Selain itu, pasien menunjukan berbagai postur yang tidak biasa dan tetap dalam posisi demikian dalam waktu yang sangat lama. Pasien dapat berdiri dengan satu kaki dan kaki lainnya ditekuk ke arah pantat dan tetap dalam posisi tersebut hampir sepanjang hari. Bahkan pasien katatonik juga dapat memiliki fleksibilitas lilin dimana orang lain dapat menggerakan badan pasien dalam posisi aneh yang akan dipertahankan olehnya dalam waktu yang sangat lama.
  • Afek yang tidak sesuai maksudnya adalah respon yang diberikan pasien diluat konteks yang seharusnya, misalnya pasien dapat tertawa ketika mendengar kabar bahwa ibunya meninggal dan marak ketika ditanya hal yang sederhana, pasien dapat dengan cepat berubah dari satu kondisi emosional ke kondisi emosinal lainnya tanpa alasan yang jelas. Simtom ini jarang terjadi, namun jika terjadi tentunya memiliki kepentingan diagnostik yang besar karena simtomnya relatif spesifik untuk pasien.
Sumber Gambar : id.ilveok.com

Apa saja Etiologi Skizofrenia?


Etiologi atau penyebab munculnya gangguan psikotik skizofrenia tentunya perlu diketahui, setelah membahas mengenai apa itu skizofrenis, bagaimana sejarah munculnya konsep tersebut dan simtom-simtom apa saja yang muncul, rasanya timbul rasa penasaran mengenai apa sebetulnya yang menjadi penyebab munculnya gangguan tersebut, sangat disayangkan jika etiologi tidak dikupas tuntas dalam pembahasan setiap gangguan psikologi. Lalu, apa saja etiologi gangguan skizofrenia ini?

1. Faktor Genetik

Sejumlah literatur yang meyakinkan mengindikasikan bahwa suatu predisposisi bagi skizofrenia diturunkan sevara genetik. Penelitian tersebut melibatkan keluarga, saudara kembar dan adopsi seperti halnya dalam penelitian perilaku genetik lainnya yang mengarahkan peneliti menyimpulkan bahwa suatu predisposisi terhadap skizofrenia diturunkan secara genetik. Selanjutnya akan lebih dijelaskan maksud dari pengaruh faktor genetik  di bawah ini :
  • Studi Keluarga menjadi salah satu predisposisi munculnya gangguan skizofrenia, hal ini sesuai dengan hasil penelitian di atas yang menyatakan bahwa data yang diperoleh mendukung teori bahwa suatu predisposisi terhadap skizofrenia dapat diturunkan secara genetik. Perilaku orang tua yang menderita skizofrenia dapat berpengaruh terhadap tumbuh kembang anak, sehingga pengaruh lingkungan pun tidak dapat diabaikan begitu saja.
  • Studi Orang Kembar memiliki pengaruh pula seperti halnya studi keluarga, dalam tabel di atas jelas terlihat masalah kritikal dalam menginterpretasi hasil-hasil studi terhadap orang kembar. Realitanya, kesamaan lingkungan yang menyimpang dapat berperan pula dalam porsi tingkat kesesuaian tersebut, bukan hanya faktor genetik. Kesamaan disini bukan hanya pola asuh saja, namun juga lingkungan di dalam rahim yang memiliki kesamaan, misalnya untuk kembar identik lebih mendapatkan pengaruh karena mendapatkan pasokan darah yang sama dibandingkan kembar tidak identik. 
  • Studi Adopsi dilakukan terhadap anak-anak dari ibu yang menderita skizofrenia namun sejak bayi dibesarkan oleh orang tua adopsi nonskizofrenik yang telah memberikan informasi yang lebih meyakinkan mengenai peran gen dalam skizofrenia dengan menghilangkan pengaruh lingkungan yang menyimpang. Hasil dari penelitian yang dilakukan adalah sebanyak 66 persen anak yang memiliki ibu skizofrenik menerima suatu diagnosis DSM. 
  • Evaluasi Data Genetik tentunya sangat diperlukan untuk mengembangkan suatu ilmu, data genetik yang diperoleh mengindikasikan bahwa faktor-faktor genetik berperan penting dalam terjadinya skizofrenia. Setelah studi dilakukan baik itu terhadap keluarga, orang kembar ataupun anak adopsi ternyata hampir menghilangkan potensi lingkungan yang membingungkan. Namun terlepas dari semua permasalahan yang ada, data yang ada pun merupakan sekumpulan bukti yang mengesankan dan tentunya menjelaskan adanya korelasi positif yang kuat antara hubungan kekerabatan dan prevalensi skizofrenia.

2. Faktor Biokimia


Adanya faktor genetik yang menjadi etiologi gangguan skizofrenia menunjukkan bahwa faktor biokimia pun perlu diteliti mengingat melalui kimia tubuh dan proses-proses biologislah faktor keturunan dapat berpengaruh. Dalam hal ini faktor yang paling baik untuk dikaji ulang adalah aktifitas dopamin dalam tubuh.


Aktivitas Dopamin pada penderita skizofrenia tentunya memiliki keterkaitan, mengingat adanya aktivitas neurotransmitter yang berlebihan yaitu neurotransmitter dopamin, hal ini didasarkan pada pengetahuan bahwa obat-obatan yang digunakan untuk menengani penderita skizofrenia tujuannya untuk menurunkan aktivitas dopamin. 


Namun ternyata setelah dilakukan evaluasi data biokimia, seiring banyaknya penelitian terkait hal ini terdapat kesimpulan bahwa meskipun dopamin tetap merupakan variabel biokimia yang paling aktif diteliti, hal tersebut tidak mungkin dapat menjelaskan lengkap mengenai biokimia skizofrenia karena skizofrenia merupakan gangguan dengan simtom-simtom yang luas yang mencakup persepsi, kognisi, aktivitas motorik dan perilaku sosial. Para peneliti akhirnya mulai menabar jaring biokimia yang lebih lebar sehingga glutamat dan serotonin dapat berada di jalur terdepan yang tentunya tetap dikombinasikan dengan aktivitas dopamin selama penelitian dilakukan. 




3. Adakah kaitan Otak dan Skizofrenia?

Sejak gangguan skizofrenia terindikasi, penelitian mulai dilakukan untuk melihat adakah abnormalias pada otak orang yang normal dan penderita skizofrenia, seiring dengan kemajuan teknologi penelitian ini memiliki beberapa bukti yang menjanjikan. Beberapa pasien menunjukan adanya patologi pada otak yang tentunya dapat di observasi lebih lanjut.


Analisis dilakukan pascakematian penderita skizofrenia, dimana terdapat temuan yang paling konsisten yaitu adanya pelebaran rongga otak yang berimplikasi pada hilangnya beberapa sel otak. Temuan lain yang cukup konsisten pula adalah adanya abnormalitas struktur pada daerah subkortikal temporal limbik seperti hipokampus dan basal ganglia serta pada korteks prefrontalis dan temporal ( Dwork, 1997 ; Heckers, 1997). 


Mengingat banyaknya permasalahan  otak pada penderita, maka penelitian lebih lanjut terus dilakukan untuk mengetahui adanya hubungan otak dengan skizofrenia. Setelah diketahui bahwa simtom-simtom skizofrenia mengimplikasi banyak daerah otak, penelitian yang dilakukan pun menjadi lebih spesifik yaitu berupaya menemukan cedera dan meneliti pula sistem-sistem neural serta bagaimana cara daerah berbagai daerah otak yang berbeda  saling berinteraksi. Penelitian yang dilakukan mulai mengarah pada kemungkinan peran dari berbagai macam struktur otak dalam skizofrenia ( Byne dkk., 2002; Gilbert dkk., 2001).



Sumber Gambar : etd.respositoy.ugm.ac.id

4. Stress Psikologis dan Skizofrenia

Sebelumnya sudah dibahas tentang adanya pengaruh bilogis terhadap skizofrenia, sekarang kita beralih ke faktor psikologis, adakah pengaruhnya? 


Stress psikologis berperan penting dengan cara berinteraksi dengan keerentanan biologis yang memunculkan gangguan ini. Data menunjukkan bahwa sama halnya dengan gangguan lainnya, stress psikologis meningkatkan terjadnya kekambuhan ( Hirsch dkk., 1996; Ventura dkk., 1989).


Lalu apa saja yang berkaitan dengan stress psikologis? terdapat dua stressor yang merupakan bagian yang paling penting yaitu kelas sosial dan keluarga.

  • Kelas Sosial pada penderita skizofrenia tidak menunjukan tingkat kejadian  yang semakin tinggi seiring kelas soaial terendah, namun terdapat jumlah perbedaan yang signifikan antara jumlah orang yang menderita skizofrenia dalam kelas sosial rendah dan kelas sosial yang lainnya. Studi klasik yang dilakukan oleh Hollingshead dan Redlich selama sepuluh tahun mengenai kelas sosial dan penyakit mental di New Haven, menunjukan tingkat kejadia skizofrenia di kelas sosial terendah ditemua dua kali lebih tinggi dibandingkan dengan kelas sosial di atasnya. Hasil penelitian tersebut telah dikonfirmasi secara lintas budaya melalui studi sejenis di berbagai negara seperti Denmark, Norwegia dan Inggris ( Kohn, 1968). 
  • Keluarga merupakan salah satu hal penting yang menjadi etiologi skizofrenia, berbagai studi terhadap keluarga individu penderita skizofrenia mengungkapkan bahwa dalam beberapa hal mereka berbeda dengan keluarga yang normal, dimana keluarga penderita skizofrenia menunjukkan pola komunikasi yang membingungkan dan mendapati tingkat konflik yang tinggi, oleh karena itu adanya kemungkinan bila konflik dan komunikasi yang membingungkan tersebut merupakan akibat dari adanya anggota keluarga yang berusia muda yang menderita skizofrenia.

Bagaimana Terapi Skizofrenia?



Menangani pasien yang memiliki gangguan psikotik skizofrenia tentunya bukanlah hal yang mudah mengingat beragamnya simtom yang ada yang tentunya terapinya tidak bisa disamaratakan sehingga butuh kompetensi terapis untuk mengefektifkan proses terapi. 

Selain dari itu, yang menjadi masalah dalam penanganan pasien skizofrenia adalah banyak pasien yang kurang memiliki insight atas gangguannya sehingga melokak semua proses terapi yang diberikan ( Amador dkk., 1994).

Sebelum masuk kepada bagaimana proses terapi, penting untuk diketahui bahwa ketepatan suatu terapi tergantung pada tahap penyakit pasien, jika pasien masuk kedalam pasien akut maka pelatihan keterampilan sosial ataupun intervensi lain tidak mungkin akan berhasil mengingat kondisi pasien yang benar-benar terganggu dimana pasien tidak mampu untuk berkonsentrasi dengan apa yang dikatakan oleh terapis sehingga pasien memerlukan pengobatan psikoaktif terlebih dahulu, setelah pasien mulai membaik maka intervensi psikologis dapat dilakukan secara bertahap dan dosis obat pun dapat dikurangi seiring pasien mulai mengurangi stress yang memicu munculnya simptom ( Kopelwiczm Liberman & Zarate, 2002).

Berikut akan dipaparkan bentuk terapi untuk pasien skizofrenia, terdiri dari dua penanganan yaitu biologis dan psikologis. 

Penanganan Biologis
  • Terapi Kejut dan Psychosurgery, sejarah munculnya terapi ini bermula pada awal tahun 1930 an dimana praktik dengan memberikan insulin dalam dosis yang tinggi sehingga menimbulkan koma, dan terdapat temuan lainnya yang kurang lebih sama yang pada akhirnya dianggap tidak efektif karena bisa menimbulkan pasien koma bahkan kematian. kemudian pada tahun 1935, seorang psikiater berkebangsaan portugis bernama Moniz memperkenalkan lobotomi prefrontalis yang kemudian disebut psychosurgery yang ternyata tidak hanya pasien skizofrenia saja yang ditangani dengan metode ini, prosedur yang dilakukan dengan cara melakukan pembedahan yang membuang bagian-bagian yang menghubungkan lobus frontalis dengan pusat otak bagian bawah dengan tujuan mengurangi perilaku agresif, namun metode ini pun pada beberapa tahun kemudiannya mendapat reputasi yang buruk pula karena beberapa alasan dan akhirnya ditinggalkan.
  • Terapi Obat, terapi obat dipercaya mampu mengurangi berbagai ekses nehavioral dan emosional pada banyak pasien sehingga pada tahun 1950 an terdapat obat-obat antipsikotik atau neuroleptik yang menimbulkan efek samping yang sama dengan penyakit neurologis. Terapi obat ada obat-obatan antipsikotik tradisional dan terapi obat terbaru, yang intinya adalah bahwa obat-obatan antipsikotik merupakan bagian yang tidak dapat dihapuskan mengingat keberhasilan klozapin, olanzapin dan risperidon yang mendorong upaya berkesinambungan untuk menangani pasien skizofrenia, dan obat-obatan lainnya yang terus dikembangkan. 
Sumber Gambar : genmuda.com

Penanganan Psikologis
  • Terapi Psikodinamika, bapak psikoanalisa freud  tidak banyak memberikan sumbangan terkait pasien skizofrenia baik dalam bentuk praktis ataupun artikelnya, ia berpendapat bahwa pasien ini tidak mampu mengembangkan hubungan interpersonal terbuka yang penting untuk analisis. Namun Harry Stack Sullivan mempelopori penggunaan psikoterapi untuk pasien skizofrenia  dengan membangun sebuah bangsal di Rumah Sakit Sheppard dan Enoch Pratt di Towson, Maryland pada tahun 1923 dan melakukan penangan psikologis yang dianggap berhasil. Sullivan merekomendasikan jika melakukan terapi duduk agak disampin terlebih dahulu un tuk menghindari kontak mata mengingat hal tersbut terlalu menakutkan untuk awal-awal, namun jika pasien sudah percaya bisa bertahap untuk mendorong pasien mengkaji hubungan interpersonalnya. Selanjutnya da Gromm Reichmann seorang psikiater berkabangsaan jerman yang membantu mengembangkan berbagai jenis psikoanalisis sebagai penanganan utama skozofrenia. Namun pada akhirnya metode ini hanya bisa digunakan untuk pasien ringan, untuk pasien aktif sangatlah tidak efektif mengingat simtom yang dikeluarkannya begitu menakutkan dan berbahaya. 
  • Pelatihan Keterampilan Sosial, tujuan pelatihan ini adalah untuk melatih kemampuan bersosialisasi pasien dalam kehidupan sehari-harinya. Kombinasi bermain peran, modelling dan penguatan positif menghasilkan perbaikan yang signifikan pada pasien, bahkan terjadi generalisasi yang tidak dilatih sebelumnya, studi ini mengindikasikan bahwa pasien dengan gangguan yang parah dapat diajari perilaku sosial baru yang membantu mereka nerperilaku lebih baik, timgkat kekambuhan berkurang dan kualitas hidup yang lebih tinggi ( Kopelowicz dkk., 2002).
  • Terapi Keluarga dan Mengurangi Emosi, terapi ini dilakukan kepada keluarga pasien dengan tujuan dapat saling membantu dan memahami kondisi pasien untuk meminimalisir kekambuhan terjadi, edukasi yang disampaikan terapis kepada keluarga meliputi : edukasi tentang skizofrenia yaitu kerentanan biologis dan berbagai masalah kognitif yang melekat pada pasien, informasi tentang pemantauan bebagai efek pengobatan antipsikotik, menghindari saling menyalahkan, memperbaiki cara komunikasi dan keterampilan penyelesaian masalah dalam keluarga, mendorong pasien dan keluarga untuk memperluas kontak sosialnya dan menanamkan harapan bahwa pasien akan lebih baik dan bisa untuk tidak kembali dirawat.
  • Terapi Kognitif-Behavioral, Sebelumnya diasumsikan bahwa pasien skizofrenia tidak akan efektif jika mencoba mengubah dengan berbagai distorsi kognitif seperti halnya delusi, namun pada realitasnya suatu literatur klinis dan eksperimental saat i ni menunjukan bahwa berbagai keyakinan maladaptif pada beberapa pasien dapat diubah dengan berbagai intervensi kognitif behavioral ( Garety, Fowler & Kuipers, 2000). 
  • Terapi Personal ( Personal Therapy), terapi ini menurut Hogarty dkk adalah suatu pendekatan kognitif behavioral berspektrum luas terhadap masalah yang dialami para pasien diluar rumah sakit. Penurunan jumlah reaksi emosi anggota keluarga dapat menurunkan tingkat kekambuhan pasien. selain itu, para psien diajarkan mempelajari kekambuhan walaupun itu kecil, pasien juga sering diajari relaksasi otot sebagai alat bantu untuk mengatasi kecemasan. Fokus terapi ini terletak pada psien sebagai individu bukan terhadap keluarga yang tujuannya mengajarkan coping internal pada pasien.
  • Terapi Reatribusi ( Reatribution Therapy), Terapi ini dilakukan melalui  diskusi kolaboratif dan beberapa pasien dibantu untuk memberikan makna nonpsikotik terhadap berbagai simtom paranoid sehingga mengurangi intensitas dan karakteristiknya yang berbahaya, sama dengan yang dilakukan oleh Beck untuk depresi dan Barlow terhadap gangguan panik ( Beck & Rector, 2000; Drury dkk., 1996; Haddock dkk., 1998). 
  • Mengamati Fungsi-Fungsi Kognitif Dasar, dalam hal ini yang diamati adalah fungsi-fungsi yang harapannya dapat diperbaiki sehingga dapat mempengaruhi perilaku secara positif, pendekatana ini berkonsentrasi pada upaya menormalkan fungsi-fungsi kognitif yang fundamental seperti perhatian dan memori yang diketahui melemah pada pasien skizofrenia ( a.l., Green, 1993) dan berhubungan dengan adaptasi sosial yang buruk ( Green, 1996; Green, Kern, Braff & Mintz, 2000). 
Sumber Gambar : alodokter.com

Demikian pembahasan singkat mengenai gangguan psikotik skizofrenia, mudah-mudahan dapat dijadikan referensi dan bermanfaat untuk semuanya, mohon maaf atas segala kekurangannya.


Salam Bahagia..
Mozaik Psikologi..

DAFTAR PUSTAKA

Chaplin, J.P. (2011). Kamus Lengkap Psikologi. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada.

Davison, D.C., Neale, J.M., Kring, A.M. ( 2012). Psikologi Abnormal. Jakarta : Rajawali Press. 


Jika dirasa bermanfaat, silahkan di klik tombol share dibawah ini !!!